Senin, 17 Oktober 2011

PEMBUKAAN LAHAN


1.1  Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB)
Lahan yang digunakan untuk pengembangan perkebunan dapat berupa hutan primer, hutan sekunder, semak belukar, padang alang-alang maupun areal konversi untuk peremajaan kebun. Urutan pekerjaan dan alat yang digunakan serta teknis pelaksanaan dalam pembukaan lahan sangat tergantung pada keadaan lahan tersebut.disamping itu juga tergantung kepada kerapatan vegetasi dan metode/cara pembukaan lahan yang digunakan.
Pembukaan lahan untuk areal hutan primer/sekunder dan semak belukar tidak di perkenankan adanya kegiatan pembakaran walaupun cara ini relative lebih mudah, cepat dan murah, dan dalam pembukaan lahan padang alang-alang dan areal konversi/peremajaan pada umumnya sudah tidak menganut system pembakaran sesuai dengan yang diamanatkan dalam undang-undang No.18 tahun 2004. Mengingat cara-cara pembukaan lahan dengan pembakaran akan menimbulkan dampak negative seperti gangguan asap dan pencemaran lingkungan ,maka cara pembukaan lahan dengan pembakaran pada berbagai tipe lahan tidak boleh dilaksanakan.
Beberapa manfaat pembukaan lahan tanpa pembakaran, antara lain : tidak menimbulkan polusi kabut asap; menurunkan emisi gas rumah kaca, terutama CO2; memperbaiki bahan organic tanah, kadar air dan kesuburan tanah, terutama diareal yang sudah mengalami beberapa kali penanaman, sehingga dapat menurunkan pupuk anorganik dan meminimalkan resiko pencemaran air melalui pencucian atau aliran permukaan; tidak bergantung pada kondisi cuaca; dan dalam jangka panjang, pembukaan lahan Tanpa pembakaran akan menjamin kesinambugan secara ekonomi dan ekologi.
Pelaksanaan pembukaan lahan tanpa pembakaran untuk pengembangan perkebunan disesuaikan dengan kondisi vegetasi yang akan dibuka,yang dapat berupa hutan primer/sekunder peremajaan kebun dan semak belukar. urutan dan jenis pembukaan lahan tanpa pembakaran tidak banyak berbeda dengan pembukaan lahan dengan pembakaran, meliputikegiatan menebang, menebas, dan merumpuk/memerun pada jalur antara tanaman.
Berbagai kendala dan permasalahan yang terkait dalam upaya Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) karena kurangnya  pengertian pelaku usaha dan masyarakat tentang dampak pembakaran lahan dan hutan terhadap pemanasan global yang akhirnya mempengaruhi keadaan iklim atau penyimpangan iklim yang muaranya kembali kepada manusia itu sendiri.

2.      TUJUAN

Tujuan dari dilaksanakannya Kegiatan pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) adalah :
a.    Untuk mengurangi emisi gas rumah kaca yang berdampak negatif pada perubahan iklim yang berpengaruh pada stabilitas ekosistem, aktifitas transportasi, komunikasi, dan kesehatan manusia.
b.   Untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kekeringan yang akan berdampak langsung kepada tanaman. Akibatnya, hasil panen akan mengalami penurunan.
c.    Untuk pemulihan kwalitas lingkungan yang berbasis pembangunan berkelanjutan.
d.   Untuk menanggulangi sebab-sebab menurunnya kapasitas ekosistem.

2.5 Metode Pelaksanaan
Team yang telah dibentuk melaksanakan tugasnya sesuai tugas dan tangung jawab yang diberikan untuk melaksanakan kegiatan Sosialisasi dan fasilitasi Demplot/praktek Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) wilayah yang  telah di tunjuk dan  ditetapkan pada Kabupaten masing-masing dengan tugas sebagai berikut :
1.      Setelah memberikan sosialisasi kepada tokoh dan masyarakat, tentang Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) termasuk cara pembuatan arang dari sisa-sisa tebangan dan cara pembuatan kompos dari seresah-seresah dari hasil pemarasan.
2.      Pemilik lahan dan atau koordinator/petugas kabupaten memberikan laporan ke propinsi tentang perkembaangan pelaksaanaan kegiatan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB)disekitar Demplot/tempat praktek
3.      Selanjutnya propinsi melaporkan secara berkala tentang perkembangan pelaksanaan kegiatan Pembukaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) ke Pusat.

2.6 PEMBUKAAN LAHAN PADA AREAL HUTAN

Pembukaan lahan pada areal hutan dapat dilakukan dengan cara kombinasi manual-mekanis dan mekanis.
2.6.1  Kombinasi Manual-Mekanis
Tahapan pekerjaan untuk system ini meliputi perencanaan penanaman, membuat rintisan dan membagi petak petak tanaman, mengimas, menebang, merencek, membuat jalur tanam dam membersihkan jalur tanaman.
2.6.2 Perencnaan Penanaman :
          Membuat rencana dan desain kebun yang akan dikelola dengan mempertimbangkan: ukuran kebun, ukuran petak tanaman, topografi, itpe tanah, sistam/jaringan jalan dan transportasi, sistam konservasi tanah dan air, dan operasional lainnya.
2.6.3  Membuat Rintisan dan Pembagian Petak Tanaman:
Semak belukar dan pohon kecil yang berdiameter hingga 10 cm dibabat dan dipotong, sehingga merupakan jalan didalam areal untuk memudahkan pekerjaan selanjutnya. Pembagian petak tanaman antara lain didasarkan pada kondisi topografi, jenis tanah dan jaringan jalan, sebagai contoh: kebun dapat dibagi kedalam petak-petak seluas 100 ha yang kemudian dibagi kedalam sub petak seluas 25 ha (1000 m x 250 m). setiap sub petak dikelilingi oleh jalan utama (main roads) dan jalan pengupulan (collection roads).
2.6.4  Mengimas :
Penebangan semak dan pohon kayu yang berdiameter hingga 10 cm dengan menggunakan parang atau kapak.
Pohon kayu yang berdiameter > 10 cm ditebang dengan menggunakan kampak dan gergaji rantai  (chainsaw). Tinggi penebangan  tergantung  pada diameter batang, seperti      dibawah  ini :
-  Diameter pohon 10-20 cm : tinggi tebang        >   40 cm
-  Diameter pohon 21-30 cm : tinggi tebang        >   60 cm
-  Diameter pohon 31-75 cm : tinggi tebang        > 100 cm
2.6.5 Merencek :
Cabang dan ranting pohon yang telah ditebang, dipotong dan dicincang (direncek) dan dirumpuk.
2.6.6 Membuat Pancang Jalur Tanam/Pancang Kepala
          Jalur tanam dibuat menurut jarak antar barisan tanaman (gawangan). Hal ini dimaksud untuk memudahkan pembersihan jaklur tanam dari hasil rencengan.
2.6.7  Membersihkan Jalur Tanam :
          Hasil rencekan ditempatkan pada lahan diantara jalur tanaman, dengan jalur 1 meter di kiri-kanan pancang jalur tanam. Dengan demikian diperoleh 2 meter jalur yang bersih dari potongan-potongan kayu, seperti gambar 1.
 2.7   Cara Mekanis:
System ini dilakukan pada areal yang memiliki fotografi  datar hingga  berombak   ( lereng 0-8 ). Umumnya menebang pohon yang dilakukan dengan traktor /tree dozer atau stumper.
Tahapan pekerjaan untuk system ini adalah sebagai berikut:
   2.7.1.   Perencanaan Penanaman:
                          Membuat rencana dan desain kebun yang akan dikelola dengan mempertimbangkan: ukuran kebun, ukuran petak tanaman, topografi, tipe tanah, system/ jaringan jalan dan trnsportasi, system konservasi tanah dan air, dan rencana operasional lainnya
2.7.2        Membuat Rintisan dan Pembagian Petak Tanaman:
Semak belukar dan pohon kecil yang berdiameter hingga 10 cm dibabat dan dipotong, sehingga merupakan jalan didalam areal untuk memudahkan pekrjaan selanjutnya. Pembagian petak tanaman antara laindidasarkan pada kondisi topografi, jenis tanah dan jaringan jalan, sebagai contoh: kebun dapat dibagi kedalam petak-petak seluas 100 ha yang kemudian dibagi kedalam sub petak seluas  25 ha (100 m x 250 m). setiap sub petak dikelilingi oleh jalan utama ( main roads) dan jalan pengumpulan (collection roads).
          2.7.3.   Menebang:
Pohon yang besar maupun yang kacil ditebang dengan traktor atau ditebang dengan gergaji rantai. Penumbangan dimulai pinggir ketengah berbentuk spiral. Pohon ditebang kearah luar agar tidak menghalangi jalur traktor seperti pada gambar 2.



 






Arah Penumbangan
Arah
Tumbangan Kayu
Gambar 2. Arah penumbangan dan arah tebang pohon.
          2.7.4.   Merencek:
          Cabang dan ranting pohon yang telah ditebang dipotong dan dicincang (direncek).
2.7.5.   Membuat Pancang Jalur Tanam/Pancang Kepala:
Jalur tanam dibuat menurut jarak antar barisan tanaman (gawang). Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pembersih jalur tanam.
          2.7.6.   Membersihkan Jalur Tanam:
Hasil rencekan ditempatkan pada lahan diantar jalur tanaman, dengan jarak 1 meter di kiri- kanan pancang jalur tanam. Dengan demikian diperoleh 2 meter jalur yang bersih dari potongan-potongan kayu.

3.PEMBUKAAN LAHAN PADA AREALPEREMAJAAN KEBUN (SAWIT)

Pembukaan lahan pada areal peremajaan kebun (sawit) dapat dilakukan  dengan cara kombinasi manual-mekanis dan mekanis.
3.1.      Kombinasi Manual-Mekanis
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada areal peremajaan kebun (sawit) dengan cara manual adalah sebagai berikut
3.2.      Perencanaan Penanaman :
Membuat rencana dan desain kebun yang akan dikelola dengan mempertimbangkan: lingkup pekerjaan, ketersediaan mesin-mesin dan peralatan yang memadai, waktu pelaksanaan dan biaya.
3.3       Membuang Ganoderma :
Pada areal yang terserang ganoderma, perlu dilakukan sensus batang-batang pohon yang terserang untuk kemudian ditebang dan dijauhkan dari areal tanaman baru.
3.4.      Membuat Pancang Jalur :
Pancang jalur dibuat untuk menentukan jalur tanaman baru, jaringan jalan, jalur permanen dan saluran drainase. Untuk meminimalkan resiko infeksi serangan ganoderma, jalur tanaman baru diletakkan diantara jalur tanaman lama.
3.5.      Pembuatan Jalan Dan Saluran Drainase :
Pembuatan jalan (saluran) pengumpulan/pengawasan atau saluran drainase sekunder dapat dilakukan sebelum atau segera setelah penumbangan pohon sawit lama. Apabila saluran lama tidak sesuai dengan letak saluran yang baru, maka saluran lama perlu ditutup dengan tanah dan saluran baru dibuat dengan letak pancang jalur. Apabila saluran lama masih sesuai dengan letak saluran baru, maka saluran tersebut digali kembali sedalam saluran baru. Diareal datar, saluran lapangan dibuat diantara 4atau8 jalur tanaman, sedangkan saluran koleksi ditempatkan ditengah 2 saluran lapangan.
3.6.      Menebang Dan Merenceng :
Pohon sawit lama ditebang kemudian dicincang (direncek) dengan menggunakan kapak atau chainsaw.
3.7.      Membersihkan Jalur Tanam :
Hasil rencekan ditempatkan (dirumpuk) diantara jalur tanaman, dengan jarak 1 meter di kiri-kanan pancang. Dengan demikian diperoleh 2 meter jalur yang bersih dair potongan kayu-kayuan.
3.8.      Membajak Dan Menggaru :
Setelah menebang merumpuk, membajak dan menggaru tanah perlu diperlukan unutk memperbaiki kondisi tanah dan memudahkan penanaman.
3.9.      Pembuatan Teras dan Teknik Konservasi :
Pada areal yang berotpografi bergelombang/berbukit, perlu dilakukan terasering dengan mengikuti teknik konsevasi tanah dan air. Pada lahan dengan itngkat kelerengan lebih dari 10o, perlu dibuat teras tanaman dengan lebar 4 m, kecuali pada tanah yang dangkal-teras yang labih sempit dapat dibuat untuk menghidari pemotonganm sampai ke bahan batuan induk. Teras harus mengikuti garis kontur. Pada lahan dengan itngkat kelerengan natara 5-10o, teras harus dibuat dengan lebar antar teras sekitar 30 m.
3.10     Cara Mekanis
System ini dilakukan pada areal yang memiliki topografi datar berombak. Umumnya menebang dilakukan dengan traktor/excavator. Tahapan pekerjaan adalah sebagai berikut.
3.11.    Perencanaan Penanaman :
Membuat rencana dan desain kebun yang akan dikelolah dengan  mempertimbangkan: lingkup pekerjaan, ketersedian mesin-mesin dan perawatan memadai, waktu pelaksanaan dan biaya.

3.12.    Membuang Ganoderma :
Pada areal yang terserang ganoderma, perlu dilakukan sensun batang-batang pohon yang terserang untuk kemudian ditebang dan dijauhkan dari areal tanaman baru.
3.13.    Membuat pancang jalur :
            Pancang jalur dibaut untuk menetukan jalur tanaman baru, jaringan jalan, jalur pemanenan, dan saluran drainase. Untuk memimalkan resiko infeksi serangan ganoderma, jalur tanaman baru diletakan antara jalur tanaman lama.
3.14.      Pembuatan Jalan Dan Saluran Drainase  :
                     Pembuatan jalan (Saluran) pengumpulan/pengawasan atau saluran drainase sekunder dapat dilakukan sebelum atau segera setelah penumbangan pohon sawit lama. Apabila saluran lama tidak sesuai dengan letak saluran yang baru, maka saluran lama perlu ditutup dengan tanah dan saluran baru dibuat sesuai dengan letak panjang jalur. Apabila saluran lama masih sesuai dengan letak saluran baru, maka saluran tersebut digali kembali sedalam saluran baru. Diareal datar, saluran lapangan diantara 4 atau 8 jalur tanaman, sedangkan saluran koleksi ditempatkan ditengah buah saluran lapangan.
3.15.      Menumbang Dan Merencek  :
                     Pohon sawit lama ditebang kemudian dicincang (Direncek) dengan menggunakan exavator.
3.16.      Membersihkan Jalur Tanam  :
                   Hasil rencekan ditempatkan (Dirumput) diantara jalur tanaman, dengan jarak 1 meter di kiri kanan panjang. Dengan demikian diperoleh 2 meter jalur yang bersih dari potongan kayu-kayuan.
       3.17.      Membajak Dan Menggaruk  :
                     Setelah menebang dan merumpuk, membajak dan menggaruk tanah dengan tractor perlu dilakukan untuk memudahkan penanaman.
     3.18.      Pembuatan teras dan teknik konservasi  :
                   Pada areal yang bertokografik bergelombang /berbukit, perlu dilakukan terasering dengan mengikuti teknti konservasi tanah dan air. Pada lahan dengan tingkat kelerengan lebih dari 10o, perlu dibuat teras tanaman dengan lebar 4 meter, kecuali pada tanah yang dangkal teras lebih sempit dapat dibuat menghindari pemotongan sampai kebahan batuan induk. Teras haru mengikuti garis kontur. Pada lahan dengan tingkat kelerengan anatara 5-10°, teras harus dibuat dengan lebar antar teras sekitar 30 meter.

4.      PEMBUKAAN LAHAN PADA AREAL SEMAK BELUKAR

Pembukaan lahan pada areal semak belukar, dapat dilakukan dengan cara manual dan mekanis.
4.1.        Cara Manual
Kegiatan-kegiatan pembukaan lahan yang dilakukan pada areal semak belukar dengan cara manual adalah sebagai berikut  :
          4.2.      Membabat Rintisan Dan Mengimas  :
Vegetasi yang berdiameter hingga 10 cm dipotong dan dibabat. Hal ini penting untuk memudahkan penebagan pohon yang berdiameter lebih dari 10 cm. pkerjaan ini dilakukan dengan menggunakan tenaga manusia dengan mengunakan parang.
          4.3.      Menebang dan Merenceh  :
Pohon kayu yang besar diarael tersebut ditebang kemudian dicincang (Direnceh). Alat yang digunakan parang dan kapak atau gergaji rantai (chainsaw).
          4.4.      Membuat Panjang Jalur Tanam/Panjang Kepala  :
Jalur tanam dibaut menrut jarak antar barisan tanam (Gawang). Hal ini untuk memudahkan pembersian jalur tanam.
          4.5.      Membersihkan Jalur Tanam  :
Hasi, rencekan ditempatkan pada diantara jalur tanaman, dengan jarak 1 meter di kiri kanan panjang. Dengan demikian diperoleh 2 meter jalur yang bersih dari potongan kayu-kayuan.
4.6.     Mekanis
Sistem ini dilakukan pada areal yang memiliki topoh grafi dapat berombak. Umumnya menebang dilakukan dengan tractor. Tahapan pekerjaan adalah sebagai berikut :
4.7.      Membabat Rintisan Dan Mengimas :
Semak dan kayu ditebas maksimum setinggi 40 cm.
4.8.      Menebang  :
Pohon yang besar maupun yang kecil ditebang dengan tractor atau ditebang. Penumbangan sebaiknya mengikut sertakan akar pohon. Arah kerja dimulai dari pinggir ketengah. Pohon ditebang kearah luar agar tidak menghalangi jalan tractor seperti pada  gambar 2.
          4.9.      Merencek  :
Cabang dan ranting pohon ditebang dipotong dan dicincang (direncek).
          4.10.    Membuat pancang jalur Tanam/Pancang Kepala  :
Jalur tanamdibuat menurut arah antar barisan tanaman (Gawang). Hal ini dimaksudkan unutk memudahkan pembersihan jalur tanam.
          4.11.    Membersihkan Jalur Tanam  :
Hasil rencekan ditempatkan pada lahan diantara jalur tanaman dengan jarak 1 meter di kiri-kanan pancang. Dengan demikian diperoleh 2 meter jalur yang bersih dari potongan-potongan kayu.
4.12.    Manual/Mekanis-Khemis
Pembukaan lahan dengan cara manual dan mekanis dapat dikombinasikan dengan cara khemis melalui pemanfaatan herbisida pada saat pembukaan lahan perkebunan, maupun saaat penanaman ulang pada tanaman perkebunan melalui penyemprotan semak dan belukar. Metode persiapan lahan tanpa bakar dengan menggunakan kombinasi seperti Paraquat, Triasulfuron, Gliosfat maupun jenis bahan kimia lainnya. Dengan memperhatikan aspek dengan bijaksana sesuai dengan petunjuk yang diberikan.
Penggunaan metode ini disarankan dilanjutkan dengan penanaman Legume Cover Crop (LCC)
5.         UPAYA PENGENDALIAN KEBAKARAN DAN KEGIATAN LAIN
Dalam upaya menghidari terjadinya kebakaran lahan yang dapat berasal dari kegiatan pembukaan lahan oleh pengusaha sendiri maupun sebagai akibat penjalaran api dari luar, upya yang dilakukan antara lain sebagai berikut: 
5.1.  untuk kebun yang berbatasan dengan areal alang-alang atau kegiatan usaha tani masyarakat maka harus dibuat jalur lahan bebas minimal lebar 10 meter yang dapat juga dijadikan sebagai jalan control.
5.2.  untuk perkebunan pada lahan gambut agar dibuat parit drainase dengan system tertutup yang sekaligus juga bertindak juga sebagai batas petak/ sub petak dan sekat bakar sehingga kalau terjadi kebakaran pada suatu petak itdak menjalar pada petak lain.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar